Kh.com.Jakarta– Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat GAKORPAN sekaligus tokoh nasional Gerakan Solidaritas Suara Rakyat Indonesia, Dr. Bernard BBBI Siagian, SH., Makp, kembali menggugah kesadaran publik melalui pernyataan kerasnya terkait fenomena “korupsi berjamaah” dan mentalitas haus kekuasaan di kalangan elite.
Dalam refleksi publik yang disampaikan pada momentum nasional, Bernard menyoroti secara tajam sikap segelintir elite yang memilih jalur singkat untuk kaya dan berkuasa—yakni lewat siasat kotor korupsi, oligarki, dan praktik mafia tanah. Ia menyebut fenomena ini sebagai “siasat buruk dan jalan pintas menuju kekayaan semu yang merusak tatanan sosial, hukum, bahkan spiritual bangsa.”
“Mereka yang ingin cepat kaya akan terjatuh ke dalam pencobaan metamorfosa birahi kekuasaan dan kekayaan. Nafsu ini menyeret mereka kepada jerat hukum dan kehancuran moral, serta menenggelamkan sesama insan dalam kebinasaan,” ujar Bernard penuh keprihatinan.(27/6/2025)
Dalam bagian yang disebutnya sebagai “Renungan Inspirasi Surga”, Bernard juga menyentil maraknya praktik penipuan publik melalui investasi bodong yang dibungkus dalam kemasan modern dan digital. Keinginan untuk cepat kaya, katanya, membuat banyak orang bahkan yang religius sekalipun mudah terjebak dalam tipu muslihat yang justru menjauhkan diri dari nilai-nilai ilahi.
Ia mengutip tokoh-tokoh dunia seperti John D. Rockefeller, WH Vanderbilt, dan John Jacob Astor untuk menunjukkan bahwa kekayaan materi tidak selalu menjamin kebahagiaan. “Rockefeller pernah berkata bahwa jutaan dolarnya tak memberi kebahagiaan. Lantas, bagaimana dengan mereka yang menghalalkan korupsi untuk menjadi kaya dalam semalam?”
Bernard menekankan bahwa prinsip kekayaan yang sejati dan diberkati hanya datang dari kerja keras, ketekunan, dan integritas. Ia mengingatkan bahwa tidak ada janji Tuhan bagi orang yang mengejar kekayaan dengan cara spekulatif, licik, atau koruptif.
“Allah tidak memberkati spekulasi, tapi memberkati usaha. Rejeki yang bertahan adalah hasil dari peluh dan ketekunan, bukan hasil dari mencuri atau menipu sistem lewat oligarki dan kekuasaan.”
Dengan bahasa reflektif dan spiritual, Bernard menyerukan agar bangsa Indonesia kembali ke prinsip dasar tanggung jawab dan etos kerja. Ia menolak segala bentuk penyimpangan kekuasaan (abuse of power) dan mengecam sistem yang membiarkan korupsi berjamaah tumbuh subur dalam tubuh pemerintahan, hukum, hingga ekonomi.
Refleksi dan Doa untuk Bangsa
Di akhir penyampaian, Bernard mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk merenung dan bertanya pada diri sendiri: “Apakah aku haus kekayaan hingga buta arah dan lupa hukum?” Ia mengajak masyarakat untuk kembali kepada prinsip tanggung jawab atas modal hidup yang Tuhan telah percayakan: baik berupa talenta, waktu, keahlian, maupun kesempatan.
Ia pun memanjatkan doa:
“Ya Allah Tuhan Semesta, ajari aku untuk memahami prinsip yang Engkau kehendaki: bekerja, berusaha, dan bertekun dalam ketulusan. Jauhkan aku dari muslihat kekayaan yang menyesatkan. Jadikan aku hamba yang bertanggung jawab dan hidup dalam disiplin serta semangat antikorupsi. Amin.”
Mengutip hikmat hari ini, Bernard menutup pernyataannya dengan peringatan tajam namun penuh makna:
“Ada yang mendapatkan seluruh kekayaan dunia, namun kehilangan kedamaian dan tujuan hidupnya yang sejati.”
Melalui pesan ini, Bernard menyerukan kebangkitan moral dan spiritual di tengah badai keserakahan yang mengancam masa depan negeri ini. Ia menegaskan, hanya bangsa yang bekerja keras dengan integritaslah yang akan memperoleh kemakmuran sejati bukan bangsa yang terbuai mimpi menjadi kaya dalam semalam lewat korupsi dan tipu daya.
(Dr.Bernard)









