Sekolah Nyaris Roboh, Sampai Kapan MI Tanjungsari Menunggu Kepedulian Pemerintah?

KOMPASH.com || SUKABUMI – Di balik berbagai program peningkatan kualitas pendidikan yang terus digaungkan pemerintah, masih terdapat potret memprihatinkan yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan di Indonesia. Salah satunya adalah kondisi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Tanjungsari, yang berada di Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Bangunan sekolah yang menjadi tempat menimba ilmu bagi puluhan siswa itu kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Berdasarkan pantauan di lokasi pada Selasa (8/7/2026), lantai bangunan tampak pecah dan rusak, plafon jebol hingga memperlihatkan rangka atap, dinding mulai retak dan lembap, serta beberapa bagian bangunan mengalami pelapukan yang dinilai berpotensi membahayakan keselamatan warga sekolah.

Meski kondisi bangunan semakin memprihatinkan, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung sebagaimana mestinya. Para guru tetap menjalankan tugasnya dengan penuh dedikasi, sementara para siswa tetap hadir untuk belajar meski harus berada di lingkungan yang jauh dari kata layak.

Kondisi tersebut bukan hanya menjadi persoalan infrastruktur, tetapi juga menjadi pengingat bahwa masih ada sekolah di pelosok yang membutuhkan perhatian lebih serius. Bangunan sekolah yang aman merupakan bagian penting dalam mendukung proses belajar mengajar yang berkualitas.

Kepala MI Tanjungsari, Nuraisah, S.Pd.I., M.Pd., mengaku prihatin dengan kondisi sekolah yang dipimpinnya. Ia mengatakan pihak sekolah terus berupaya memberikan pendidikan terbaik meski di tengah keterbatasan sarana dan prasarana.

“Kami sebagai tenaga pendidik tentu sangat prihatin melihat kondisi bangunan sekolah yang semakin hari semakin memprihatinkan. Namun, di tengah keterbatasan ini kami tetap berkomitmen memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada anak-anak. Keselamatan dan kenyamanan peserta didik menjadi harapan terbesar kami,” ujar Nuraisah.Rabu (8/7/2026)

Menurutnya, guru dan siswa tetap berusaha menjalankan proses pembelajaran secara maksimal. Namun, ia tidak menampik bahwa kondisi bangunan saat ini sudah memerlukan rehabilitasi secara menyeluruh.

“Guru-guru tetap mengajar dengan penuh semangat, begitu juga anak-anak yang tetap antusias datang ke sekolah. Akan tetapi, kami tidak bisa menutup mata bahwa kondisi bangunan ini sudah membutuhkan rehabilitasi total. Kami khawatir apabila dibiarkan terlalu lama, akan membahayakan keselamatan warga sekolah,” katanya.

Nuraisah berharap pemerintah dapat memberikan perhatian nyata dengan meninjau langsung kondisi bangunan sekolah.

“Kami memohon kepada Bapak Gubernur Jawa Barat, Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, dan Pemerintah Kabupaten Sukabumi agar dapat melihat langsung kondisi sekolah kami. Besar harapan kami agar MI Tanjungsari memperoleh bantuan rehabilitasi atau pembangunan gedung baru sehingga anak-anak dapat belajar dengan aman, nyaman, dan lebih semangat dalam meraih cita-cita mereka,” tuturnya.

Ia juga mengajak masyarakat, perusahaan, lembaga sosial, dan para dermawan untuk bersama-sama membantu mewujudkan lingkungan belajar yang lebih layak.

Sementara itu, salah seorang warga Desa Tanjungsari yang enggan disebutkan namanya mengaku sedih melihat kondisi bangunan sekolah yang terus mengalami kerusakan.

“Kami merasa prihatin melihat anak-anak masih belajar di bangunan yang seperti ini. Plafonnya sudah rusak, lantainya pecah, dan kami khawatir sewaktu-waktu bisa membahayakan siswa maupun guru. Kami berharap pemerintah tidak hanya menerima laporan, tetapi benar-benar datang melihat kondisi sekolah ini,” ujarnya.

Menurut warga, sekolah merupakan tempat mencetak generasi penerus bangsa. Karena itu, penyediaan sarana pendidikan yang aman dan layak menjadi tanggung jawab bersama.

Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kementerian Pendidikan, serta Kementerian Agama dapat segera melakukan peninjauan dan mengambil langkah konkret untuk memperbaiki bangunan MI Tanjungsari.

Pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya program yang diluncurkan, tetapi juga dari sejauh mana anak-anak Indonesia dapat belajar dengan aman dan nyaman. Kondisi MI Tanjungsari menjadi pengingat bahwa masih ada sekolah yang membutuhkan perhatian nyata agar cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa benar-benar dirasakan hingga ke pelosok negeri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *