Tiga SPPG di Lebong Sigap Jadi Dapur Darurat, Salurkan 4.514 Porsi Makanan Untuk Korban Banjir

Bengkulu – Respons cepat ditunjukkan tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Lebong saat banjir bandang melanda wilayah tersebut pada awal April 2026. Dalam hitungan hari, dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang semula melayani kebutuhan rutin, beralih fungsi menjadi dapur darurat untuk membantu warga terdampak.

Banjir yang terjadi akibat curah hujan tinggi hingga menyebabkan sungai meluap ini berdampak luas pada aktivitas masyarakat, termasuk ketidakmampuan warga untuk memasak di rumah. Dalam situasi tersebut, tiga SPPG—yakni SPPG Lebong Lebong Selatan Tes, SPPG Lebong Sakti Lemeu Pit, dan SPPG Lebong Amen Selebar Jaya—bergerak cepat menyalurkan bantuan makanan siap saji.

Kepala SPPG Lebong Lebong Selatan Tes, Andi Taptaldo, menjelaskan bahwa dapur MBG di wilayahnya mulai difungsikan sebagai dapur darurat sejak 8 April 2026.

“Perubahan fungsi ini kami lakukan karena masyarakat terdampak banjir tidak bisa memasak di rumah. Kami langsung bergerak setelah berkoordinasi dengan Korcam, Korwil, hingga Satgas Kabupaten,” ujarnya di Bengkulu, Jumat (10/4).

Ia menambahkan, dalam waktu satu hari setelah banjir, dapur sudah siap beroperasi sebagai pos bantuan dengan kapasitas produksi mencapai 630 porsi per hari yang didistribusikan langsung ke posko dan rumah warga terdampak.

Hal senada disampaikan Kepala SPPG Lebong Sakti Lemeu Pit, Roki Suhendra, yang menyebutkan bahwa koordinasi berjenjang menjadi kunci percepatan respons di lapangan.

“Kami berkoordinasi mulai dari tingkat kecamatan hingga regional. Pada hari pertama kami menyalurkan 857 porsi, dan hari kedua meningkat menjadi 2.427 porsi. Total penerima manfaat mencapai 3.284 orang,” jelasnya.

Menurut Roki, distribusi dilakukan secara langsung ke desa-desa terdampak, baik melalui posko tanggap darurat maupun door to door ke rumah warga.

Sementara itu, Kepala SPPG Lebong Amen Selebar Jaya, M. Dicky Saputra, menekankan bahwa keputusan distribusi bantuan dilakukan melalui mekanisme resmi yang melibatkan pemerintah daerah hingga Badan Gizi Nasional (BGN).

“Kami berkoordinasi dengan Pemda Lebong, kemudian diteruskan ke tingkat wilayah dan pusat. Setelah ada arahan, kami langsung bergerak. Dalam satu hari, dapur sudah beralih fungsi dan mampu memproduksi 600 porsi makanan untuk warga,” ungkapnya.

Ia juga mengakui bahwa tantangan terbesar di awal adalah penyediaan bahan baku secara mendadak, mengingat situasi darurat yang membutuhkan kecepatan sekaligus ketepatan distribusi.

Secara keseluruhan, ketiga SPPG tersebut berhasil menyalurkan sedikitnya 4.514 porsi makanan kepada warga terdampak banjir dalam beberapa hari masa tanggap darurat.

Respons masyarakat pun sangat positif. Kehadiran dapur darurat dinilai sangat membantu memenuhi kebutuhan harian warga yang belum dapat beraktivitas normal akibat bencana.

“Alhamdulillah masyarakat sangat terbantu. Dalam kondisi seperti ini, makanan siap saji menjadi kebutuhan utama,” kata Dicky.

Biro Hukum dan Humas
Badan Gizi Nasional

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *